Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Monday, January 25, 2010

JALAN PANJANG YANG BELUM BERAKHIR 2

Langkah yang berat

Pagi itu Dani sudah bersiap siap pergi ke pabrik tempatnya bekerja. Sederet agenda sudah ia siapkan di tempatnya bekerja. Mulai dari persiapan adanya marketing dan teknisi dari luar yang konon akan menawarkan produknya yang berupa termometer digital. sampai agenda rutin yang hanya melakukan pengecekan laboalatorium di tempat ia bekerja. Motor yang sudah beberapa hari tidak dicucipun selalu setia menemaninya. Bahkan konon dengan motor kesayanganya itu dia sudah berhasil menjelajahi kota bekasi dan jakarta. Motor itu sudah terlihat sangat kotor. Maklum jalanan di kota memang sedang becek karena musin hujan. Yah .. seperti biasa tiap awal tahun adalah bulan-bulan dimana sangat dipenuhi dengan hujan yang turun di jakarta dan sekitarnya. Pelan tapi pasti motor itu mulai dijalankan. Sesampainya dipabrik Dani langsung masuk ketempat kerjanya. Sebuah meja yang kotor dengan sampel-sampel permen yang menumpuk di meja rupanya sudah menunggu untuk dibersihkan. Dia membersihkan sejenak dan merapikkan beberapa sampel tersebut. Untuk kemudian dia berjalan mengelilingi area produksi. Dilihatnya beberapa mesin yang sedang beroperasi. Kesibukan teman-teman yang sudah menjalankan mesinpun terlihat. Suara bising dengan suara riuh pembicaraan para karyawanpun menjadi satu. Semua terlihat berinteraksi satu sama lainya. Masing-masing seperti sudah hafal tentang apa-apa yang akan dilakukanya.
“selamat pagi pak ..” celetuk salah seorang karyawan dengan senyum yang ramah ke arah Dani. Danipun membalas dengan sapaan yang sama. Ternyata dia adalah salah seorang operator mesin yang saat itu melintas untuk mengambil sesuatu yang ada di dekat Dani. Dani disana ternyata adalah seorang yang sudah di tugaskan menjabat sebagai seorang kepala labolatorium. Tiap hari pekerjaan Dani adalah berkisar meganalisa sampel-sampel harian. Dan tiap akhir minggu dia diwajibkan melaporkan pekerjaannya tersebut ke atasanya.
Dani terus melangkah ke area produksi. Sesekali matanya yang tajam melongok ke tanki-tanki mesin dan beberapa alat-alat kerja yang terpasang disana. Dilihatnya dibagian depan area packing permen sudah terlihat. Riuh kesibukan karyawan yang sedang membungkus permen ke dalam kemasanya masing-masing. Diujung sebelah timur terlihat lelaki setengah baya sedang asyik menyusun karton-karton yang sudah berisi permen yang dikemas dalam toples. Kemudian tepat dibawah lampu merkuri gantung juga dilihatnya seorang lelaki muda dengan pakaian kerjanya menarik segeluntungan plastik. Dani mendekati sejenak, ternyata plastik tersebut berisi puluhan gelas plastik yang dijadikan bonus untuk hadiah di setiap karton permen yang ada. Yah ini adalah strategi perusahaan untuk mendongkrak pemasaran kali ini dengan program-program yang sedang ditawarkan.
Seorang wanita muda dengan menggunakan jilbab berwarna abu-abu sedang asyik memasukan permen-permen yang sudah disiapkan ke dalam toples. Kemudian setelah toples itu penuh dengan permen dia memberikan ke rekan yang ada di sebelahnya untuk kemudian ditutup dan dimasukan ke dalam karton. Sekilas wanita muda tersebut terlihat tidak ada yang istimewa. Tetapi Dani merasa ada yang berbeda. Dani melihat dengan lebih detail dari kejauhan ke arah wanita muda tersebut. Dengan dalih mengontrol pekerjaan mereka, Danipun mengamati detail wajah perempuan muda tersebut. Tampak jelas perutnya yang sedang hamil tua mengundang rasa kasihan pada Dani. Seharusnya perut yang sudah besar seperti dia beristirahat. Mungkin suaminya begitu tega terhadap perempuan tersebut. Tetapi mungkin juga si perempuan tersebut adalah sesosok wanita yang tidak mau berdiam diri di rumah sehingga dia lebih suka bekerja ketimbang duduk dirumah menunggu suaminya yang sedang bekerja.
Ada yang tampak lain dari perempuan tersebut. Wajahnya terlihat lugu. Manis dimata Dani. Tetapi Dani tidak mau terlalu jauh terbawa pada memorinya. Agaknya perempuan tersebut memiliki paras yang mirip dengan mantan pacar Dani dua tahun yang silam. Seorang wanita yang berhasil mengetuk Dani dua tahun yang silam kini teringat kembali. Wanita muda yang berada di hadapanya yang konon bernama eni membuka memorinya.
“ mba.. kok tidak beristirahat saja mba, kasihan kandungannya “ celetuk Dani basa-basi dengan eni tersebut. Enipun hanya menjawab “ iya mas, kata dokter saya suruh beraktifitas seperti biasa aja “.
Setelah beberapa saat di area tersebut Dani kemudian kembali ke labolatorium untuk melanjutkan pekerjaanya di sana.

Pulang
Jam sudah menunjukan jan 11 malam. Tetapi Dani belum dapat memejamkan matanya. Diingatnya perempuan yang tadi siang masih berjibaku dengan pekerjaanya. Dani merasa kasihan denganya. Tak disadari Danipun merasa iba. Dia membayangkan seandainya dia adalah sesosok Mita tentu Dani tidak akan membiarkanya bercucuran keringat di tempat kerjanya. Memang Mita adalah wanita yang 2 tahun lalu lebih memilih cowo lain ketimbang memilih Dani, dan sungguh dimata Dani paras eni yang sedang hamil tua tersebut sangat mirip mita. Tapi sesosok mita yang memorinya kembali terbuka di ingatan Dani kini tidak jelas entah dimana. Mungkin juga Mita telah berkeluarga dan sudah memiliki kehidupanya sendiri. Atau malah mungkin juga Mita telah pulang ke kampung halamanya yang jauh di sana. Bayangan Dani menerawang jauh. Dibukanya handphone untuk mencari apakah masih ada foto mita disana. Ternyata tidak. Dulu dia pernah berusaha menutup memori tentang Mita dengan cara manghapus no hape Mita, nomor kantor tempat bekerja dan juga menghapus foto-foto yang ada di ponselnya. Termasuk foto-foto yang waktu itu tersimpan di kamera digitalnya. Semua dihapus dengan tujuan agar memorinya tidak terbuka kembali. Tetapi kenapa pada kali ini malah memori tersebut terbuka kembali ketika dia melihat sosok wanita yang sedang mengandung?? Ini artinya memang wanita tersebut sudah tidak mungkin lagi menggantikan posisi Mita di ingatan Dani. Yah si Eni seyogyanya hanya cerita lalu yang tidak boleh singgah terlalu lama di mata Dani. Dia tidak boleh terlalu lama mengganggu memori Dani. Dan Danipun sadar Eni hanya pemicu ingatanya akan mita. Dia hanya berandai-andai dan tanpa sadar diapun manata sebuah kata-kata yang dia tulis di lembaran balik bekas struk belanja di sebuah mini market yang masih kosong.

Seandainya….

Seandainya air mata tangismu adalah airmataku
Seandainya rasa sakitmu adalah sakitku
Seandainya tangis bahagaimu adalah senyumku
Seandainya malam lelap tidurmu adalah adalah teman mimpiku

Seandainya .......
Seandainya dikala lelap tidurmu aku dapat membelai rambutmu
Seandainya kau yang mengoreksi pakaianku ketika berangkat kerja ke kantorku.
Seandainya pula baju rapiku adalah buah dari setrikaanmu….

Seandainya…
Seandainya aku yang paling merasa kasihan kepadamu ketika langkahmu yang berat karena kandungan anak dikehamilan tuamu
Seandainya pula aku orang yang paling kau harapkan kehadiranya ketika kau sedang berjuang melahirkan anakmu
Dan seandainya hatimu itu paling tenang ketika dikala sakit bersalinmu terdapat kehadiranku
Dan seandainya pula aku orang yang paling bahagia ketika mendengar tangis bayi keluar dari rahimmu

Seandainya…
Seandainya kau merasa aku adalah kau dan juga kau adalah aku.
Seandainya..
Seandainya kau ditakdirkan menjadi istriku.. kubayangkan hidupku akan sangat bahagia denganmu.

Bekasi, 22 januari 2010

Setelah pena berwarna biru tersebut selesai menggores halaman kosong kertas putih bekas struk belanja, kertas itupun terlepas dari tangan Dani dan Dani mulai tertidur. Kertas itu ikut melayang bersama hembusan kipas angin yang memang sudah dari tadi dinyalakan. Udara Bekasi yang panas menuntut Dani terus tidur dengan kipas angin yang selalu diputarnya.

Wednesday, July 15, 2009

TERNYATA AKU PANTAS BANGGA

Sore itu, yanto berjalan naik sepeda kumbangnya menyusuri pinggir desa. Jalan kampung yang lumayan ramai mengakibatkan debu debu tanah kering berterbangan. Yanto terus mengayuh sepedanya. Ditatapnya gunung yang menjulang tinggi di arah utara desa. Gunung itu nampak sangat perkasa, megah dan terlihat keagungan sang maha Besar yang telah membangun gunung itu dengan mudahnya. Udara sore yang kering dan dingin membuat yanto sedikit merinding. Seperti sedang napak tilas kelihatanya. 18 tahun yang laku, tiap pagi dan siang dia melewati jalan ini. Tentu tidak berbeda dengan k0ndisi sekarang. Sepeda kumbang butut itulah yang mengantarkanya pergi dan pulang sekolah sewaktu masih duduk di bangku smp. Dulu yanto masih belasan tahun. Yanto kecil yang lugu. Yang terkadang masih tergoda dengan cinta monyet. Sekarang yanto yang masih tetap lugu dengan hati yang teriris. Di taruhnya sepeda di jembatan pinggiran desa. Dia duduk dan memegang hapenya. Yah cuma memainkan aplikasi musik dan mendengarkanya. Dilihatnya teman SD yang baru saja pulang dari sawah. Mereka saling menghampiri. Berbincang sejenak dan temanyapun berpamitan pulang. Berikutnya teman yanto sekampung dilihatnya membawa segulung rumput untuk pakan sapinya. Disapanya yanto, sebentar tanya kabar masing-masing dan diapun pulang.
Kasihan.... Mereka yang hidup serba sederhana dan apa adanya. Berbeda dengan yanto yang sekarang sudah menjadi menejer sebuah perusahaan ternama di jakarta. Kepulanganya ke kampung kali ini hanya karena ingin menghilangkan kangennya dengan kampung halaman. Sengaja dia gunakan sepeda kumbang temen jalan waktu masih smp. M0bil avansa yg dia miliki sengaja ditinggal di rumahnya di jakarta. Sore itu banyak anak anak usia smp dan sma dari kampungnya yang terlihat bingung melihat yanto. Karena memang mereka tidak saling mengenal. Beda generasi, itu mungkin kata yang tepat untuk menggambarkannya.
Yanto merasa sedih bercampur bangga. Dia sedih kenapa anak anak sekampung tidak lagi mengenalnya. Bukankah ini adalah tempat kelahiranya? Kampung halaman yang sangat di cintainya?. Dia teringat temen sekampung yang jugat temen waktu sma. Dia telah tiada karena serangan ginjal 3 tahun yang lalu. Temen kost yang waktu itu sering diem2an dan marah2 an ama yanto. Dalam hati yanto kangen.
Sedikit terbesit rasa bangga, untuk ukuran di kampungya yanto adalah anak berprestasi kala itu. Jumlah sarjana muda yang berasal dari kampunya dapat dihitung. Yanto termasuk salah satunya. Walau untuk mendapatkan gelar tersebut yanto harus berjibaku sendiri tanpa uluran tangan orang tua. Yanto juga mampu mengangkat drajat orang tua dari kebangkrutan ekon0mi. Lantaran 18 tahun yang lalu ayahnya pernah terjerembab ke lubang kebangkrutan. Yah ayah yanto kalah dalam percaturan pilkades. Masih jelas ingatan di kepala. Kebon dan sawah ludes habis dijual guna keperluan nyalon Kepala desa. Yanto juga bangga walau setahun yang lalu ibunya struk dan biaya berobat yang sangat tinggi sempat mampu dia tanggung. Bahkan sebidang tanah di sebrang rumahnya masih mampu ia bayar. Yanto kembali dengan kesedihanya ketika di ujung jalan ini dia pernah bersepeda berdua dengan wanita yang ia cintai. Yang kini telah menjadi milik orang lain. Dan mungkin dia telah melupakan yanto untuk selama-lamanya. Dia juga masih bersedih dengan kegagalan cintanya di tanah rantau. Beberapa wanita yang singgah di hatinya sudah dicoba di perjuangkan. Namun belum ada satupun dari mereka yang mau setia dengan yanto. Yah, yanto hanyalah sekedar Anak kampung yang mau bekerja keras. Lelah yanto menerawang ke kisah cintanya yang masih terbilang pahit. Padahal temen seusianya di kampung sudah mampu berkeluarga dan membangun biduk rumah tangga. Sambil memutar sepedanya yanto berniat pulang. Waktu sudah menjelang magrib. Sambil mengayuh pelan pelan sepedanya itu, yanto masih berbangga hati. Karena memang dia pantas bangga. Temen seusianyapun masih banyak yang hanya mejadi kuli panggul. Sementara anaknya tiap hari meminta uang untuk jajan di sekolah. Mungkinkah nantinya yanto akan mampu menbina rumah tangga di kampung kelahiranya? Dengan siapa? Kapan bertemu? Gemerisik angin yang menerpa pohon padi masih belum memberi jawaban. Sepedanya terus di kayuhnya sampai menghilang di persimpangan desa di iringi adzan magrib yang berkumandang.
By mr. M0eng

Wednesday, July 8, 2009

EMANG HARUS???part 2

Surti terhenyak melepaskan lingkaran tangan nya di pinggan tejo dan berusaha berontak melepaskan diri dari pelukan tejo. Tejo pun kaget “ kenapa sayang ??” sembari menyambar kembali tangan surti. Surti masih bersikeras dengan posisi badanya menolak sambaran tangan tejo untuk berpelukan kembali. Dia sedikit membatasi kontak fisik saat itu.
Selama ini tejo mamang sering dibuat ragu oleh tingkah surti dimana terkadang surti terlihat perhatian, terkadang dapat menunjukan rasa sayang, terkadang seperti cuek dan terasa tidak membutuhkab tejo sama sekali. Sebagai lelaki yang menyayangi surti tentu tejo sangat kangen dengan permintaan-permintaan surti. Tejo ingin sekali menjadi lelaki yang dibutuhkan oleh surti walau surti masih sering tidak berbuat demuikian.
Tejo kembali berbisik “ kamu tidak cinta aku ya sayang ??”. agaknya rasa ragu yang terpendam terhadap surti tidak bisa tertutup telalu lama. Pelan tapi pasti pertanyaan itu muncul. Surti terdiam dengan mata yang masih menunduk. Kaca lemari yang tepat berada di sisi mereka berdua selalu mengikuti gerak-gerik mereka. Seakan sedang merekam gejolak hati kedua insan yang tidak menentu itu.
“mmmm…. Kamu tidak sayang aku ya sayang??” tejo menanyakan itu kembali yang kedua kalinya. Itu adalah jurus laki-laki yang konon dikeluarkan ketika pasanganya sulit untuk diajak bermesraan. Tejo mecoba mempraktekan itu kepada surti. Entah dari mana tejo mendapatkan ide seperti itu sehingga pertanyaa tadi meluncur sampai dua kali. Kali ini pertanyaan lebih ditekankan lagi. Tejo terus menatap mata surti yang terus menunduk. Entah apa yang dirasakan surti, tejopun tidak mampu membayangkan.
sambil mengangkat mukanya surtipun mencoba menjawab “ mas tejo.. emang harus???”.
Agaknya surti tidak mau bermesraan karena memang cinta tidak harus dibuktikan dengan cara bermesraan seperti itu. Paling tidak itulah yang ditangkap oleh tejo. Satu kalimat ringkas dari surti yang memberikan gambaran betapa mulianya cara berfikir surti. Tejopun merasa perlu mengoreksi diri sendiri yang selalu terbawa emosi asmara sehingga seringkali kehilangan control apabila sedang berdekatan dengan cewe yang paling ia cintai itu. Tejo masih terbawa larut dengan cerita-teman teman dimana jika ketemuan dengan pacarnya maka akan memberikan seribu ciuman, seribu pelukan dan seribu rayuan. Seperti kalimat ringkas yang dilontarkan oleh surti tadi itu semua adalah tidak harus dan bahkan harus ditinggalkan. Tejo merasa batas-batas pacaran yang seharusnya jangan dilanggar kini mulai terlanggar dengan sedikit memeluk, mencium yang baru saja ia jalani. Dan surti adalah wanita yang berhasil mengingatkannya. Tejopun melepas semua tangan yang masih menggandeng surti dan kembali menyambar sisir di depan lemari dan segera merapika rambutnya. Kemudian sisir itupun ia berikan ke surti untuk segera juga merapikan rambuntnya yang sedikit terkoyak oleh tejo barusan. Dan mereka kembali menintin tivi dengan duduk-duduk di kasur lantai dengan santai.


Kejadian di depan lemari kaca kemarin memang paling tidak memberikan rasa mantap ke tejo bahwa keraguan yang selama ini dia alami terhadap surti mulai pudar. Dia semakin mencintai surti saja. Hari demi hari dan bulan demi bulan mereka jalani dengan pacaran ala kadarnya. Tidak ada cium tidak ada peluk walau terkadang ditengah bercanda yang menggemaskan tejo sering nylonong nyubit pipi surti. Surtipun menolak dengan sedikit meronta walau tenaga tejo terlalu kuat untuk seorang surti.
Tiga bulan telah berlalu hampir setiap dua hari seminggu tejo bertandang ‘apel’ ke rumah surti. Mula-mula sambutan surti masih cukup hangat dengan didampingi segelas kopi bikinan surti. Terkadang surti menawarkan teh botol atau apa saja sebagai hidangan atas kedatangan tejo. Kini rasa ragu tejo mulai menyeruap kebali. Surti tidak sehangat yang dulu. Tejo mncoba mengoreksi diri dan meminta bantuan tuti temen surti untuk memberikan saran bagaimana seharusnya dan apa sih yang diinginkan oleh surti.
“mas tejo tau gak?? Surti itu sebenarnya kepengin mas tejo memberikan perhatian yang lebih. Coba deh saya saranin beri dia perhatian lebih extra lagi” ungkap tuti suatu hari ketika tejo menanyakan kepada tuti apa sebenarnya kemauan surti.
Bahkan tejo merasa pernah sangat kecewa ketika melihat fotonya yang biasa dipajang oleh surti tepat diatas tivi surti kini sudah tidak ada lagi. Foto itu entah kemana rimbanya. Dan denger-dengar dari cerita tuti bahwa suatu ketika surti pernah menangis sendirian sambil menyobek-nyobek foto yang tak berdosa itu. Tejo pun kaget kenapa mesti foto itu yang disobek-sobek??. Apakah ini yang disebut dengan surti memang tidak mencintai tejo?? Wah bahaya besar kalo demikian sebab tejo sudah sangking cinta matinya terhadap surti. Bahkan saudara sekampung sudah mengetahui bahwea tejo sudah punya cewe idaman, surti... cewe cantik dari jogja.

ACARA PABRIK
Sebagai seorang karyawan pabrik kala itu tejo masih mendapatkan jatah liburan ke luar kota dari perusahaan tempat ia bekerja. Perusahaan memilih suatu tempat di bandung sebagai tempat rekreasi karyawan. Tak lupa sepasang boneka kucing mungil dia beli sebagai oleh-oleh untuk surti wanita yang ia cintai. Boneka kucing tersebut dikemas dengan anyaman rotan dan diberi gantungan. Jika dilihat seakan-akan ada dua ekor kucing kecil yang lucu yang berada dalam keranjang. “Sungguh lucu boneka ini seandainya di taruh diatas lemari tivi surti “gumam tejo. Tanpa ragu dia membayar boneka itu dan segera berkonsultasi dengan mba sri temen kerjanya untuk membeli tas kecil yang rencananya akan dia berikan ke surti. Yah sebuah tas kecil terbuat dari anyaman entah daun apa tejopun tidak tahu. Dan keranjang kecil berisi dua buah boneka boneka kucing. dia berencane memberikan ke pada surti.

Acara liburan pabrik selesai, bis-pun meluncur dari arah bandung menuju Jakarta tempat kerja mereka berdua. sepulang dari rekreasi tejo langsung bergegas mandi dan merapikan oleh-oleh yang sudah ia siapkan untuk surti.

“Assalamualikum…” tejo segera mengetuk rumah surti. Dibukanya pintu. Surti yang sudah rapi meyeruap dari balik pintu. Maklum surti agaknya sudah pulang kerja semenjak sore tadi. Sedangkan tejo baru pulang dari rekreasi dibandung selepas isa barusan.
“waalaikum salam…” jawab surti.
“Sayang... aku punya oleh-oleh buat kamu sayangku” kata tejo penuh antusias seakan-akan ingin menunjukan ke surti bahwa iapun bisa menjadi cowo yang perhatian.
Disodorkanya sepasang boneka kucing beserta dengan keranjangnya. “sayang ,,, bonekanya ditaruh dimana yang biar bagus “ kata tejo memancing antusias surti yang dari tadi terlihat pasif. “di atas meja tivi aja mas, pasti cakep....” kata surti.
“Nah kalo tas ini kayaknya bisa deh buat dibawa kerja” tejo menyabung ucapanyya. Kemasan plastic yang tersimpan rapi yang dibawa tejo segera dibuka dan memberikan isinya kepada surti. “ wahhh makasih…” kata surti. Rasa gembira surti membuat tejo lega. Dia menganggap bahwa dia kali ini mampu memberikan perhatian ke wanita yang ia cintai. Walau mungkin para ahli pemain watak dapat membedakan apakah surti benar-benar senang atau hanya menutupinya karena kaasihan terhadap tejo. bahagia dalam ilusi.
Dimata tejo surti sudah cuku bahagia. Dan malam itu mereka saling betukar cerita tentang tempat rekreasi yang baru saja dikunjungi.

Tiga hari kemudian tejo kembali main dalam rangka meng”apel”i gadis pujaanya itu. Betapa kaget tas yang ia beli kemarin ternyata tidaklah bernilai istimewa di mata surti. Tuti temen surti malah merasa sayang dengan tas yang katanya dibiarkan saja. Tuti menggunakanya untuk wadah lipsik dan perlatan yang biasa digunakan untuk bekerja.
Sebenarnya hati tejo hancur. Tetapi dia tidak mampu melukiskanya dengan kata-kata dan dia pun tidak akan menyampaikanya ke surti tentang itu. Dua buah boneka kucing itu terdiam melihat majikan yang telah membelinya terlihat kecewa. Sayang sekali dia hanya boneka. Seandainya dapat berbicara pasti boneka itu akan memberikan masukan-masukn baik ke tejo maupun surti


to be continued

Friday, July 3, 2009

EMANG HARUS??? part 1

Tejo baru saja bangun dari tidur siangnya kala itu. Maklum dia adalah seorang karyawan swasta dengan jadwal kerja shift. Kali ini dia adalah mendapat giliran shift 3. Dia pun menyalakan tivinya. Dengan sambil tiduran di kasur lantai dia menikmati acara televisi sore itu. "permisi....!." terdengar pintu rumah diketok dari luar. Suara cewe yang sangat ia kenal. Diapun tergopoh-gopoh segera membukakan pintu. Segera senyum lebar keluar dari tejo. Rupanya surti mampir ke rumahnya. Cewe yang paling ia cintai menyempatkan diri untuk mampir selepas pulang kerja sore itu.
"kamu capek ya sayang? " ucap tejo sambil memegang tangan surti. Sembari mengajaknya duduk di kasur lantai. Tejo segera memberikan rem0t tivi dengan maksud supaya acara yang ditonton adalah pilihan surti. Cewe yang paling ia bangga-banggakan. "gak kok mas" desah surti seraya merubah kanal tivi ke acara gosip. Acara yang disukainya itu. "mas tejo masih ngantuk?" tanya surti dengan penuh perhatian ke tejo pacarnya. Karena surti juga tahu bagaimana capeknya menjadi pekerja shift semacam tejo. Beberapa bulan yang lalu surti juga pernah mendapatkan tugas kerja malam di pabrik tempat ia bekerja. Tapi kini atasanya menetapkan jadwal krjanya adalah shitf pagi. Tejo menggelengkan kepala. Obrolan obrolan ringan dan canda ria mulai muncul di antara mereka. Kini entah mengapa surti yang asik mengutak atik remot tivi sudah dalam posisi duduk bersandar tembok di kasur lantai tepat menghadap televisi. Tas mungil berisikan asesoris wanita dia letakan di sisi kananya. Sementara tejo dengan pelan dan pasti mulai merebahkan kepalanya ke pangkuan surti. Mereka terlihat sangat mesra. Canda riang mereka sesekali diselingi kecupan ringan mendarat di pipi. Yah inilah gaya pacaran anak sekarang. Tapi untungnya mereka masih mampu menjaga tidak lebih dari itu.
Dada tejo mulai berdetak kencang. Dia merasakan adanya kebahagiaan yang selama ini ia dambakan. Kedatangan wanita yang mampu mengisi hari harinya.
Rayuan rayuan ala tejo pun mulai meluncur satu demi satu. Dengan senyum bahagia surti mendengarkanya. Sambil sesekali mengatakan "ah mas tejo genit". Karena memang tejo mulai sedikit menambah porsi kecupan2 mesranya itu.
Dada tejo yang mulai berdetak lebih kencang itupun mulai berjalan keluar kendali. Tejo sesekali menatap bibir surti yang manis. Gigi surti yang tertata rapi, janggut surti yang seakan akan terbelah dua. Membuat tejo ber hasrat untuk melumatnya. Tejopun terbangun dan dia berdiri. Dia menjauh dari surti. Bukan karena dia takut dosa. Agaknya dia mendekat ke lemari kaca sambil berkaca dan menyisir rambutnya yang mulai ngaco. Acak-acakan karena memang surti beberapa kali membelainya dengan gemas. Surti mendekat ke tejo. Tejopun menyambut dengan pelukan di depan lemari kaca. Bayangan dikaca terlihat jelas, mereka berpelukan sambil berdiri. Merayu, saling melingkarkan tangan di pinggang pasanganya. "dik surti..."desah tejo sambil mengusap muka dan merapikan rambut surti. "iya mas" jawab surti. Mata tejo mulai tajam menata surti. Surti menunduk. Tejo teringat dengan bibir surti sang sangat menggodanya. Diapun mulai mendekatkan bibirnya. Pelan pelan tejopun mulai terbawa nafsu panas itu. Dia ingin segera melumat bibir surti yang indah itu. Dadanya semakin kencang. Laksana genderang perang tentara majapahit yang berperang melawan pemberontak.
Surti terhenyak dan melepaskan lingkaran tangan di pinggan tejo. Dan melepaskan diri dari pelukan tejo. Tejo kaget. "kenapa sayang?" sembari menyambar kembali tangan surti.
To be continued....